Skip to main content

Ukuran yang Tepat


Sebuah notifikasi muncul di ponsel saya, isinya peringatan batas peminjaman buku yang tinggal dua hari. Berhubung saya sedang tidak di Jogja, sudah pasti saya akan terlambat mengembalikan buku itu. Daripada pusing memikirkan batas pengembalian, saya melanjutkan bacaan. Masih tentang cerpen-cerpen terjemahan karya Hemingway. Kali ini saya membaca cerpen Sehari Menunggu Maut, terjemahan karya Hemingway; A Day’s Wait. 

Cerpen ini sangat singkat. Tidak ada konflik atau klimaks apapun, bahkan lebih singkat dari Salju Kilimanjaro yang kemarin saya baca. Tokoh utamanya adalah anak kecil bernama Schatz yang sedang sakit demam. Seorang dokter mengatakan suhu badan Schatz mencapai 102 derajat. Ia menyangka akan mati. Sewaktu ia sekolah di Perancis, teman-temannya memberitahu bahwa seseorang tidak akan bertahan pada suhu 44 derajat. Schatz lupa bahwa di tempat tinggalnya kini, mereka tidak memakai ukuran celcius melainkan fahrenheit. 

Bagi saya, yang menjadi masalah dalam cerita ini bukan demam yang diderita Schatz melainkan ukuran. Schatz kecil tidak tahu bahwa di tempat tinggalnya, suhu normal adalah 98 derajat fahrenheit (menurut cerpen tersebut) dan bukan 36 derajat celcius. Kesalahpahaman itu rupanya berakibat besar bagi psikologis Schatz. 

Tanpa disadari saya pun sering begitu (mungkin kamu juga). Menggunakan ukuran yang tidak sesuai untuk mengukur diri sendiri. Memakai ukuran orang lain pada diri sendiri. Sama halnya dengan Schatz, ketika saya memakai ukuran yang tidak sesuai untuk mengukur diri, kesalahpahaman itu berujung buruk. Kadang saya membandingkan diri dengan pencapaian teman, mereka kuliah di luar negeri, sudah lebih sukses, sudah memilki pekerjaan yang layak, dan sebagainya. Padahal saya menggunakan “satuan” yang berbeda. Pun hidup saya tidak sedang buruk. Saya hanya keliru dalam mengukurnya. 

Seperti Schatz, hidup kita mungkin tidak sedang dalam kondisi buruk. Hanya saja kadang kita melihat angka dengan satuan yang salah. Kita salah memakai ukuran. Sebelum pikiran mempercayai kondisi diri sendiri pastikan pengukurannya tepat. Jangan memakai pengukuran orang lain untuk mengukur diri sendiri. Cerpen ini begitu singkat, tidak ada konflik dramatis apalagi plot twist namun maknanya begitu dalam dan relevan hingga saat ini.  


Comments

Popular posts from this blog

Aku dan Si Bocah Pemalu

       Menjadi lulusan musik membuat aku punya standar tersendiri ketika menikmati musik, baik mendengar karya instrumental maupun orang bernyanyi. Meski aku tidak menguasai semua alat musik dan vokal tapi setidaknya aku tahu mana nada yang dibunyikan atau dinyanyikan dengan sesuai mana yang tidak. Hal ini membuatku relatif peka dengan nada yang sumbang, yang pitchy meski kurang dari semitone. Berbekal pengetahuan tentang musik, beberapa waktu lalu aku melamar pekerjaan sebagai guru ekstrakurikuler musik di salah satu homeschooling di Yogyakarta, setelah diterima aku bertemu dengan seorang anak perempuan kelas IX.  Namanya Arimbi, tapi sering dipanggil Bimbi. Homeschooling tempat aku bekerja didominasi siswa berkebutuhan khusus, misalnya autis, down syndrome, disleksia, dan lainnya. Pertama kali bertemu Bimbi, dia terlihat tidak memiliki kebutuhan khusus. Dia mampu berkomunikasi dengan baik, perilakunya tidak impulsif, hanya saja dia sangat pemalu. Masih aku...

Tiba-tiba Sastra

Hari ini saya kembali mengunjungi Perpustakaan Kota Bantul karena banyak waktu senggang sebelum mulai semester baru. Sesampainya di sana, saya meminta kunci loker lalu naik ke lantai dua. Perpustakaan cukup ramai di hari Jumat. Saya menaruh laptop dan barang lainnya di meja yang berhadapan langsung dengan pemandangan jalan raya. Setelahnya saya menyusuri rak-rak buku. Agak lama sampai saya menemukan buku berjudul On Literature, Aspek Kajian Sastra dari J. Hillis Miller yang sudah diterjemahkan. Penasaran dengan isinya saya pun membawanya ke meja.  Bab pertama menulis tentang Apa Itu Sastra. Bab tersebut diawali dengan pembahasan Apa yang Membuat Sastra Menjadi Mungkin? Dari pembahasan tersebut apa yang saya pahami adalah (semoga tidak keliru), sastra menjadi mungkin karena adanya kemampuan mengenal huruf dan kebebasan untuk berbicara. Kebebasan berbicara tidak selalu diwujudkan melalui orasi, pidato, namun apa yang "tokoh" bicarakan. Tokoh yang bahkan lahir dari khayalan pen...

Review Jurnal The Positive Influence of Music on the Human Brain

The Positive Influence of Music on the Human Brain  Zhang, Shiqi. “The Positive Influence of Music on the Human Brain.” Journal of Behavioral and Brain Science 10, no. 01 (2020): 95–104.