Skip to main content

Aku dan Si Bocah Pemalu

 


    Menjadi lulusan musik membuat aku punya standar tersendiri ketika menikmati musik, baik mendengar karya instrumental maupun orang bernyanyi. Meski aku tidak menguasai semua alat musik dan vokal tapi setidaknya aku tahu mana nada yang dibunyikan atau dinyanyikan dengan sesuai mana yang tidak. Hal ini membuatku relatif peka dengan nada yang sumbang, yang pitchy meski kurang dari semitone. Berbekal pengetahuan tentang musik, beberapa waktu lalu aku melamar pekerjaan sebagai guru ekstrakurikuler musik di salah satu homeschooling di Yogyakarta, setelah diterima aku bertemu dengan seorang anak perempuan kelas IX. 

Namanya Arimbi, tapi sering dipanggil Bimbi. Homeschooling tempat aku bekerja didominasi siswa berkebutuhan khusus, misalnya autis, down syndrome, disleksia, dan lainnya. Pertama kali bertemu Bimbi, dia terlihat tidak memiliki kebutuhan khusus. Dia mampu berkomunikasi dengan baik, perilakunya tidak impulsif, hanya saja dia sangat pemalu. Masih aku ingat, pertama kali ekstra musik dia memakai masker dan enggan melepasnya padahal dia memilih ekstra musik dengan minat utama vokal. Waktu itu dia bahkan enggan mengeluarkan suaranya. Kalau aku ingat lagi sepertinya dia bocah SMP paling pemalu yang pernah aku temui. Lalu, suaranya? Jujur saja, sumbang. Bahkan sangat sumbang. Pertama kali bertemu dengan Bimbi aku justru bingung bagaimana harus mengajarkan cara bernyanyi karena suaranya yang sumbang ditambah kepribadiannya yang pemalu. Sebagai guru, aku tidak mungkin mengatakan bahwa dia sebaiknya tidak memilih ekstra musik apalagi setelah itu aku tahu bahwa bernyanyi adalah hobinya. Ia menikmati kegiatan bernyanyi. 

Pertemuan selanjutnya dia tetap bernyanyi. Aku tidak menargetkan lagu apapun, kami menyanyikan lagu-lagu yang ia sukai. Pertemuan kedua sampai akhir dia tidak lagi memakai masker. Kadang aku bertanya kenapa dia bisa jadi sangat pemalu dan sulit berteman, dia bilang dari lahir memang begitu. Tapi menurutku itu tidak mungkin, atau mungkin dia memang berkebutuhan khusus hanya saja aku yang tidak tahu. 

Akhir bulan Maret lalu, koordinator ekstrakurikuler menghubungiku dan meminta agar Bimbi bernyanyi di acara wisuda. Awalnya aku ragu karena anak itu sangat pemalu. Ia bahkan malu ketika harus bernyanyi saat ekstra musik, padahal di ruangan itu hanya ada kami. Tapi anehnya ketika aku tanya apakah Bimbi mau bernyanyi di acara wisuda, dia mau. 

Pertemuan dengan Bimbi mengajarkanku bahwa belajar musik tidak melulu harus dibayangi dengan ekspektasi menjadi profesional, tapi belajar musik utamanya harus bermanfaat bagi orang yang mempelajarinya. Manfaat ini juga tidak selalu tentang permainan yang paling bagus, paling cepat, paling rumit, tapi bagaimana mengenal diri sendiri. Bernyanyi tidak lantas membuat Bimbi menjadi penyanyi profesional, namun dari pengalaman itu ia kemudian berani menunjukkan diri, mengeluarkan suaranya, memberitahu orang-orang bahwa ia bisa bernyanyi. Bukankah itu lebih penting? Pengalaman bernyanyi yang berlanjut pada pengalaman tampil di depan umum pasti akan memberi dampak tersendiri bagi Bimbi. Pada akhirnya belajar musik tidak berhenti pada mana yang fals dan yang tidak, tapi seberapa jauh musik memberi dampak bagi orang yang mempelajarinya.   

Mau insert gambar tapi pertemuan terakhir lupa ambil foto. Ya maapkeun foto tidak sesuai aslinya


Comments

Popular posts from this blog

Tiba-tiba Sastra

Hari ini saya kembali mengunjungi Perpustakaan Kota Bantul karena banyak waktu senggang sebelum mulai semester baru. Sesampainya di sana, saya meminta kunci loker lalu naik ke lantai dua. Perpustakaan cukup ramai di hari Jumat. Saya menaruh laptop dan barang lainnya di meja yang berhadapan langsung dengan pemandangan jalan raya. Setelahnya saya menyusuri rak-rak buku. Agak lama sampai saya menemukan buku berjudul On Literature, Aspek Kajian Sastra dari J. Hillis Miller yang sudah diterjemahkan. Penasaran dengan isinya saya pun membawanya ke meja.  Bab pertama menulis tentang Apa Itu Sastra. Bab tersebut diawali dengan pembahasan Apa yang Membuat Sastra Menjadi Mungkin? Dari pembahasan tersebut apa yang saya pahami adalah (semoga tidak keliru), sastra menjadi mungkin karena adanya kemampuan mengenal huruf dan kebebasan untuk berbicara. Kebebasan berbicara tidak selalu diwujudkan melalui orasi, pidato, namun apa yang "tokoh" bicarakan. Tokoh yang bahkan lahir dari khayalan pen...

Segala Sesuatu Mungkin Adalah Candu

Akhir-akhir ini algoritma media sosialku berubah. Postingan yang direkomendasikan adalah tentang melepaskan. Entah itu cinta, kesalahan di masa lalu, dan sebagainya. Tujuannya hanya satu, terbebas. Terbebas dari kemelekatan dengan hal-hal duniawi seperti keinginan untuk dipilih, keinginan untuk memiliki, rasa bersalah, penyesalan, dan sebagainya. Tapi, bagaimana bila segala sesuatu di dunia ini adalah candu? Bagaimana bila manusia sebenarnya tidak mungkin benar-benar terbebas kecuali ia mati?  Dalam cerpen terjemahan berjudul Penjudi, Perawat, dan Radio dari Hemingway (judul asli: The Gambler, The Nun, and The Radio) kata candu diulang berkali-kali. Meski cerpen tersebut menceritakan Cayetano yang tertembak, Pak Frazer yang menanggung sakit, dan Suster Cecilia yang ingin sekali menjadi santa, rumah sakit bukanlah tema utamanya. Cayetano adalah seorang penjudi yang selalu sial namun memilih untuk terus berjudi. Pak Frazer mengalihkan pikirannya dengan mendengarkan radio. Suster Ceci...