Saya sudah sering membaca cerpen dan novel. Bagi saya, menarik atau tidaknya tulisan-tulisan tersebut bergantung pada alur ceritanya (kecuali cerpen anak). Alur dramatis dengan akhir yang tidak terduga selalu mencuri perhatian saya. Namun hal semacam itu hampir tidak selalu ada pada cerpen-cerpen Hemingway. Hari ini saya membaca salah satu cerpen Hemingway berjudul Ayah dan Anak (judul asli: Father and Sons) . Cerpen ini menceritakan tentang Nick Adams yang mengenang kembali masa kecilnya bersama sang Ayah, bagaimana ia belajar berburu dan memancing, dan beberapa kenangan bersama teman-teman masa kecilnya. Cerpen ini tidak memiliki konflik eksternal apapun, alurnya bergerak dalam pikiran dan batin Nick. Namun di antara berbagai kenangan yang muncul dalam pikiran Nick, yang membekas bagi saya bukan peristiwa-peristiwa itu tapi satu kalimat yang berbunyi “Nick merasa hampa dan bahagia”. Hampa dan bahagia, dua hal yang saat ini terasa kontradiktif. Dalam cerpen aslinya, Hemingw...
Akhir-akhir ini algoritma media sosialku berubah. Postingan yang direkomendasikan adalah tentang melepaskan. Entah itu cinta, kesalahan di masa lalu, dan sebagainya. Tujuannya hanya satu, terbebas. Terbebas dari kemelekatan dengan hal-hal duniawi seperti keinginan untuk dipilih, keinginan untuk memiliki, rasa bersalah, penyesalan, dan sebagainya. Tapi, bagaimana bila segala sesuatu di dunia ini adalah candu? Bagaimana bila manusia sebenarnya tidak mungkin benar-benar terbebas kecuali ia mati? Dalam cerpen terjemahan berjudul Penjudi, Perawat, dan Radio dari Hemingway (judul asli: The Gambler, The Nun, and The Radio) kata candu diulang berkali-kali. Meski cerpen tersebut menceritakan Cayetano yang tertembak, Pak Frazer yang menanggung sakit, dan Suster Cecilia yang ingin sekali menjadi santa, rumah sakit bukanlah tema utamanya. Cayetano adalah seorang penjudi yang selalu sial namun memilih untuk terus berjudi. Pak Frazer mengalihkan pikirannya dengan mendengarkan radio. Suster Ceci...