Skip to main content

Posts

Segala Sesuatu Mungkin Adalah Candu

Akhir-akhir ini algoritma media sosialku berubah. Postingan yang direkomendasikan adalah tentang melepaskan. Entah itu cinta, kesalahan di masa lalu, dan sebagainya. Tujuannya hanya satu, terbebas. Terbebas dari kemelekatan dengan hal-hal duniawi seperti keinginan untuk dipilih, keinginan untuk memiliki, rasa bersalah, penyesalan, dan sebagainya. Tapi, bagaimana bila segala sesuatu di dunia ini adalah candu? Bagaimana bila manusia sebenarnya tidak mungkin benar-benar terbebas kecuali ia mati?  Dalam cerpen terjemahan berjudul Penjudi, Perawat, dan Radio dari Hemingway (judul asli: The Gambler, The Nun, and The Radio) kata candu diulang berkali-kali. Meski cerpen tersebut menceritakan Cayetano yang tertembak, Pak Frazer yang menanggung sakit, dan Suster Cecilia yang ingin sekali menjadi santa, rumah sakit bukanlah tema utamanya. Cayetano adalah seorang penjudi yang selalu sial namun memilih untuk terus berjudi. Pak Frazer mengalihkan pikirannya dengan mendengarkan radio. Suster Ceci...
Recent posts

Ukuran yang Tepat

Sebuah notifikasi muncul di ponsel saya, isinya peringatan batas peminjaman buku yang tinggal dua hari. Berhubung saya sedang tidak di Jogja, sudah pasti saya akan terlambat mengembalikan buku itu. Daripada pusing memikirkan batas pengembalian, saya melanjutkan bacaan. Masih tentang cerpen-cerpen terjemahan karya Hemingway. Kali ini saya membaca cerpen Sehari Menunggu Maut, terjemahan karya Hemingway;  A Day’s Wait.  Cerpen ini sangat singkat. Tidak ada konflik atau klimaks apapun, bahkan lebih singkat dari Salju Kilimanjaro yang kemarin saya baca. Tokoh utamanya adalah anak kecil bernama Schatz yang sedang sakit demam. Seorang dokter mengatakan suhu badan Schatz mencapai 102 derajat. Ia menyangka akan mati. Sewaktu ia sekolah di Perancis, teman-temannya memberitahu bahwa seseorang tidak akan bertahan pada suhu 44 derajat. Schatz lupa bahwa di tempat tinggalnya kini, mereka tidak memakai ukuran celcius melainkan fahrenheit.  Bagi saya, yang menjadi masalah dalam cerita in...

Ketika Alur Melambat dan Pikiran Berbicara

Bosan … adalah kata pertama yang muncul di pikiran saya ketika membaca beberapa halaman cerpen Salju Kilimanjaro dari Hemingway. Setelah membaca novel Kejahatan dan Hukuman dari Dostoevsky, tulisan Hemingway ini terasa sangat membosankan. Alur ceritanya sangat lambat, seperti tidak terjadi apa-apa. Saya pernah membaca novel lain yang alur ceritanya juga bergerak lambat, Angsa dan Kelelawar dari Keigo Higashino. Tapi tulisan Hemingway ini agak lain.  Ini pertama kali saya membaca sebuah cerpen yang berkutat di pikiran tokoh utamanya, Harry, seorang penulis yang merasa bakatnya mati karena menikahi perempuan kaya raya. Ia pergi ke Afrika bersama istrinya, Helen. Di sana Harry mengalami infeksi yang membuat kakinya membusuk. Ia hanya bisa berbaring sambil menunggu pertolongan. Di tengah ketidakberdayaannya itu, pikiran Harry melayang-layang, mengingat peristiwa yang sudah ia lalui. Tentang cinta pertamanya, kebiasannya minum alkohol, perang, penyesalan, dan cerita-cerita yang tidak pe...

Kejahatan dan Hukuman (dan Cinta)

Sehari lalu saya mendapat e-mail dari Perpustakaan Bantul tentang batas peminjaman buku yang tinggal dua hari. Buku Kejahatan dan Hukuman, terjemahan dari Crime and Punishment dari Fyodor Dostoyevsky. Sebagai penggemar novel, buku ini tentu menarik untuk saya ditambah dengan nama besar Dostoyevsky. Ini pertama kali saya membaca novelnya, karena biasanya saya lebih suka novel Asia misalnya karya-karya Keigo Higashino.  Buku yang saya baca merupakan buku terjemahan dan sudah dirangkum tanpa mengubah struktur cerita, setidaknya begitu tulisan di kata pengantar. Novel ini bisa dibilang sebuah karya lama tapi nyatanya masih relevan dengan kehidupan hari ini.  Masalah kemiskinan menimbulkan keputusasaan lalu memunculkan pikiran-pikiran tidak waras tentang tindak kejahatan. Saat membaca novel ini, Raskolnikov, si tokoh utama mengalami pergolakan psikologis yang (bagi saya) sulit dipahami tapi masuk akal. Seorang terpelajar yang merasa gagal dengan hidupnya lalu mempercayai sebuah teo...

Tiba-tiba Sastra

Hari ini saya kembali mengunjungi Perpustakaan Kota Bantul karena banyak waktu senggang sebelum mulai semester baru. Sesampainya di sana, saya meminta kunci loker lalu naik ke lantai dua. Perpustakaan cukup ramai di hari Jumat. Saya menaruh laptop dan barang lainnya di meja yang berhadapan langsung dengan pemandangan jalan raya. Setelahnya saya menyusuri rak-rak buku. Agak lama sampai saya menemukan buku berjudul On Literature, Aspek Kajian Sastra dari J. Hillis Miller yang sudah diterjemahkan. Penasaran dengan isinya saya pun membawanya ke meja.  Bab pertama menulis tentang Apa Itu Sastra. Bab tersebut diawali dengan pembahasan Apa yang Membuat Sastra Menjadi Mungkin? Dari pembahasan tersebut apa yang saya pahami adalah (semoga tidak keliru), sastra menjadi mungkin karena adanya kemampuan mengenal huruf dan kebebasan untuk berbicara. Kebebasan berbicara tidak selalu diwujudkan melalui orasi, pidato, namun apa yang "tokoh" bicarakan. Tokoh yang bahkan lahir dari khayalan pen...

Aku dan Si Bocah Pemalu

       Menjadi lulusan musik membuat aku punya standar tersendiri ketika menikmati musik, baik mendengar karya instrumental maupun orang bernyanyi. Meski aku tidak menguasai semua alat musik dan vokal tapi setidaknya aku tahu mana nada yang dibunyikan atau dinyanyikan dengan sesuai mana yang tidak. Hal ini membuatku relatif peka dengan nada yang sumbang, yang pitchy meski kurang dari semitone. Berbekal pengetahuan tentang musik, beberapa waktu lalu aku melamar pekerjaan sebagai guru ekstrakurikuler musik di salah satu homeschooling di Yogyakarta, setelah diterima aku bertemu dengan seorang anak perempuan kelas IX.  Namanya Arimbi, tapi sering dipanggil Bimbi. Homeschooling tempat aku bekerja didominasi siswa berkebutuhan khusus, misalnya autis, down syndrome, disleksia, dan lainnya. Pertama kali bertemu Bimbi, dia terlihat tidak memiliki kebutuhan khusus. Dia mampu berkomunikasi dengan baik, perilakunya tidak impulsif, hanya saja dia sangat pemalu. Masih aku...

Review Jurnal The Positive Influence of Music on the Human Brain

The Positive Influence of Music on the Human Brain  Zhang, Shiqi. “The Positive Influence of Music on the Human Brain.” Journal of Behavioral and Brain Science 10, no. 01 (2020): 95–104.