Sebuah notifikasi muncul di ponsel saya, isinya peringatan batas peminjaman buku yang tinggal dua hari. Berhubung saya sedang tidak di Jogja, sudah pasti saya akan terlambat mengembalikan buku itu. Daripada pusing memikirkan batas pengembalian, saya melanjutkan bacaan. Masih tentang cerpen-cerpen terjemahan karya Hemingway. Kali ini saya membaca cerpen Sehari Menunggu Maut, terjemahan karya Hemingway; A Day’s Wait. Cerpen ini sangat singkat. Tidak ada konflik atau klimaks apapun, bahkan lebih singkat dari Salju Kilimanjaro yang kemarin saya baca. Tokoh utamanya adalah anak kecil bernama Schatz yang sedang sakit demam. Seorang dokter mengatakan suhu badan Schatz mencapai 102 derajat. Ia menyangka akan mati. Sewaktu ia sekolah di Perancis, teman-temannya memberitahu bahwa seseorang tidak akan bertahan pada suhu 44 derajat. Schatz lupa bahwa di tempat tinggalnya kini, mereka tidak memakai ukuran celcius melainkan fahrenheit. Bagi saya, yang menjadi masalah dalam cerita in...
Bosan … adalah kata pertama yang muncul di pikiran saya ketika membaca beberapa halaman cerpen Salju Kilimanjaro dari Hemingway. Setelah membaca novel Kejahatan dan Hukuman dari Dostoevsky, tulisan Hemingway ini terasa sangat membosankan. Alur ceritanya sangat lambat, seperti tidak terjadi apa-apa. Saya pernah membaca novel lain yang alur ceritanya juga bergerak lambat, Angsa dan Kelelawar dari Keigo Higashino. Tapi tulisan Hemingway ini agak lain. Ini pertama kali saya membaca sebuah cerpen yang berkutat di pikiran tokoh utamanya, Harry, seorang penulis yang merasa bakatnya mati karena menikahi perempuan kaya raya. Ia pergi ke Afrika bersama istrinya, Helen. Di sana Harry mengalami infeksi yang membuat kakinya membusuk. Ia hanya bisa berbaring sambil menunggu pertolongan. Di tengah ketidakberdayaannya itu, pikiran Harry melayang-layang, mengingat peristiwa yang sudah ia lalui. Tentang cinta pertamanya, kebiasannya minum alkohol, perang, penyesalan, dan cerita-cerita yang tidak pe...