Skip to main content

Aku Kehabisan Waktu

Aku Kehabisan Waktu


Aku kehabisan waktu tapi tidak kehabisan cinta. Aku tidak pernah kehilangan cinta. Ia tetap bergelayut dalam hatiku. Melambai di waktu malam dan menyambut di waktu pagi. Kalau ada kesempatan untuk kembali tentu aku tidak mau. Aku akan menyimpan semuanya secara utuh tanpa mengubah apapun. Setiap detik, setiap perasaan, jangan sampai hilang. Tidak perlu ditambah atau dikurang. Biarkan begitu apa adanya. Dengan begitu aku lebih lega. 

Perjalanan ini sungguh singkat tapi begitu hebat. Hebat dalam mengubahku. Mungkin memang sudah cukup. Lagi-lagi tidak lebih, tidak kurang. Untungnya satu senyuman manis kau tinggalkan. Jadilah, aku masukkan ke ruang rahasia dalam hatiku, dalamnya seperti palung tapi disitulah aku sering berkunjung. 

Aku akan mengatakannya sekali lagi, aku kehabisan waktu tapi tidak dengan cinta. Aku masih rumahmu, semoga tidak terlupa. Pulanglah kapan saja. Aku masih disini dan tidak ada yang berubah. 

Comments

Popular posts from this blog

Review Jurnal The Positive Influence of Music on the Human Brain

The Positive Influence of Music on the Human Brain  Zhang, Shiqi. “The Positive Influence of Music on the Human Brain.” Journal of Behavioral and Brain Science 10, no. 01 (2020): 95–104.

Aku dan Si Bocah Pemalu

       Menjadi lulusan musik membuat aku punya standar tersendiri ketika menikmati musik, baik mendengar karya instrumental maupun orang bernyanyi. Meski aku tidak menguasai semua alat musik dan vokal tapi setidaknya aku tahu mana nada yang dibunyikan atau dinyanyikan dengan sesuai mana yang tidak. Hal ini membuatku relatif peka dengan nada yang sumbang, yang pitchy meski kurang dari semitone. Berbekal pengetahuan tentang musik, beberapa waktu lalu aku melamar pekerjaan sebagai guru ekstrakurikuler musik di salah satu homeschooling di Yogyakarta, setelah diterima aku bertemu dengan seorang anak perempuan kelas IX.  Namanya Arimbi, tapi sering dipanggil Bimbi. Homeschooling tempat aku bekerja didominasi siswa berkebutuhan khusus, misalnya autis, down syndrome, disleksia, dan lainnya. Pertama kali bertemu Bimbi, dia terlihat tidak memiliki kebutuhan khusus. Dia mampu berkomunikasi dengan baik, perilakunya tidak impulsif, hanya saja dia sangat pemalu. Masih aku...

Ruang Aman

  Memang seharusnya aku tidak habis karena mencintai orang lain. Bukan berarti aku pernah begitu. Aku belajar mencintai secukupnya, karena dengan orang yang menyayangiku semuanya cukup. Aku tidak perlu membuktikan apapun. Seperti aku mencintai diriku, dia pun akan begitu. Aku tidak perlu menjadi yang lain. Aku adalah aku seutuhnya. Dia akan selalu menjadi ruang amanku. Ruang dimana aku bisa menjadi apa saja. Tapi kali ini ruang itu ada di kamu.