Buat para pencinta Disney, kalian pasti nggak akan asing dengan live action Aladdin yang rilis tahun 2019. Disney kayanya emang lagi gencar bikin live action dari film animasi lama. Live action Aladdin gampangnya adalah film fantasi musikal. Para penontonnya pasti tersihir sama musik dan tari-tarian di film itu. Nggak bisa dipungkiri sih, film garapan Disney rata-rata punya soundtrack yang bagus dan memorable banget. Salah satu lagu yang paling booming adalah A Whole New World. Jujur aja, kalau kalian denger film Aladdin pasti kalian kepikiran lagu satu ini kan? Tapi kali ini kita nggak bakal bahas lagu itu, guys. Ada hal lebih menarik yang mungkin nggak terlintas di benak kalian selama ini.
Jalan cerita film Aladdin nggak jauh beda dari animasi lamanya. Film ini masih berkutat di cerita Aladdin, Putri Jasmine, Jin Lampu Ajaib, dan Jafar. Meski begitu ada perbedaan antara animasi dan versi live action. Sadar nggak sih, Putri Jasmine berubah jadi tokoh yang punya power di politik. Hal ini nggak keliatan di film animasinya, tapi di versi live action ambisnya Putri Jasmine kentara banget. Dialog antara sang putri dan ayanya yang kurang lebih gini “Pangeran asing mana yang peduli pada rakyat lebih dari aku? Jika saja aku bisa memimpin …” nunjukin kemauan si Jasmine buat gantiin Sultan. Waktu aku rewatch film ini, dialog ini jadi menarik, loh. Setidaknya buat aku. Kenapa? Dongeng Aladdin ini kan punya latar tempat di Negeri Arabah, Arab, tapi si tokoh utama menurutku termasuk tokoh feminis yang seolah menyuarakan bahwa perempuan bisa kok memimpin. Bagiku ini justru bertentangan dengan kultur Arab sendiri dimana disana ada kecendurungan untuk memilih laki-laki menjadi pemimpin. Aku jadi ragu, bener nggak sih dongeng Aladdin ini asalnya dari Arab atau daerah Timur Tengah sana?
Dongeng Aladdin ternyata bagian dari Kisah 1001 Malam yang diterjemahkan oleh Antoine Galland tahun 1704. Menurut Britannica, dongeng Aladdin justru punya latar belakang di daerah China. Beberapa sumber menyatakan si Antoine Galland ini denger cerita Aladdin dari seorang Syria yang namanya Hanna Diyab. Nah, menurut beberapa sumber, dongeng Aladdin versi asli dan versi Disney itu banyak perbedaannya. Di versi asli, Aladdin berasal dari China. Dia tinggal dengan ibunya yang janda dan miskin. Terus di versi asli Aladdin juga orang yang malas, serakah, dan pelit. Dia juga punya dua jin yang asalnya dari lampu dan satu lagi dari cincin. Aladdin versi Disney adalah pemuda yatim piatu yang baik hari dan cerdik, tinggal bareng si monyet kesayangannya, dan dibantu satu jin aja yang asalnya dari lampu.
Kira-kira kenapa sih Disney membuat perubahan besar ini? Kalau jawaban gampangnya sih pasti buat nyari keuntungan, ya. Sama kaya nasi padang yang dijual di Jogja. Kalau kata temenku rasanya nggak otentik dan udah disesuaiin sama lidah orang Jogja. Disney pasti juga nyari cara gimana dongeng Aladdin bisa datengin keuntungan buat mereka.
Sebagian orang mungkin percaya bahwa film Aladdin adalah salah satu film yang punya nilai pendidikan. Beberapa sikap dari tokohnya mungkin bisa menginspirasi, misalnya kaya ketegasan Putri Jasmine. Sebagian orang mungkin juga percaya bahwa film Aladdin adalah salah satu upaya Disney buat memperkenalkan budaya timur ke dunia. Tapi coba dipikir lagi, budaya timur yang kaya apa sih yang Disney perlihatkan lewat film Aladdin?
Berangkat dari “sisi baik” film Aladdin yang diamini banyak orang, aku mencoba untuk mengorek film ini dengan perspektif yang berbeda. Siapa tahu, ada sisi-sisi terselubung yang nggak kita sadari. Pernah denger teori imperialisme budaya yang dipelopori Herb Schiller? Teori ini secara singkat menjelaskan bahwa negara Barat mendominasi media di seluruh dunia ini. Media barat punya kuasa yang besar untuk mempengaruhi media di dunia ketiga sehingga mereka ingin meniru budaya yang muncul lewat media tersebut. Gampangnya, misal nih film-film barat selalu pakai efek yang mungkin “menakjubkan” buat kita, terus kita jadi kagum dan pengen jadi kaya mereka. Selain itu, film-film barat juga membuat kita menikmati sajian tentang gaya hidup, kepercayaan, dan pemikiran yang mereka sampaikan melalui film itu. Nah, terus gimana nih dengan film Aladdin?
Di awal film baik versi animasi mauapun live action, pasti diputar lagu Arabian Nights. Versi animasi tahun 1992, lirik lagunya kira-kira begini where they cut off your ear if they don’t like your face, it’s barbaric, but hey, it’s home. Serem juga, ya. Lirik itu akhirnya diganti dengan where it’s flat and immense and the heat is intense, it’s barbaric, but hey, it’s home. Terus di versi live actionnya, liriknya berubah lagi jadi where you wander among every culture and tongue, it’s chaotic, but hey, it’s home. Kalau diperhatiin, ada yang nggak berubah dari ketiga versi lirik tadi yaitu gimana pihak Disney menggambarkan kondisi sosial di daerah Arab dengan kata it’s barbaric dan it’s chaotic yang artinya sama-sama negatif. Ditambah lagi, mereka menambahkan frasa but hey, it’s home, seolah-olah kondisi sosial yang negatif adalah tempat ternyaman untuk mereka yang hidup disana. Bagiku ini adalah salah satu bentuk imperialisme budaya, dimana negara barat mengkonstruk sebuah pandangan negatif dan menyebarkannya ke publik seolah bilang “kaya gini loh kehidupan disana”. Lirik di atas, menurutku kurang cocok apalagi untuk anak-anak. Bayangin deh kalau ada anak-anak polos yang percaya banget sama lagu ini dan akhirnya punya pandangan negatif sama negara-negara di Timur Tengah. Bahaya banget kan? Padahal kan bisa misal liriknya diganti it’s beautiful, and it’s home. Eh, tapi aku siapa?
Selain dari lirik lagu, percintaan Putri Jasmine juga nyebelin sih. Setidaknya buat aku. Di versi live action, Putri Jasmine digambarkan sebagai seorang putri yang anggun, cerdas, berwibawa, bahkan dia ilmuwan. Kekurangannya cuma jarang jalan-jalan aja. Si putri ini punya kualitas yang tinggi, tapi kenapa akhirnya harus sama Aladdin sih? Kalau Disney bisa nambahin power di bidang politik buat Jasmine, kenapa mereka nggak nambahain satu value lebih buat Aladdin? Kan bisa aja ditambah satu scene misal Aladdin buka-buka buku gitu biar keliatan terpelajar. Putri Jasmine dan Aladdin sebenernya bukan pasangan yang sepadan, menurutku. Aladdin butuh berjuang buat ningkatin value diri dulu biar seimbang sama Putri Jasmine. Kisah cinta mereka ini bagiku juga nilai yang dikonstruk negara barat dan disebarkan terutama ke anak-anak perempuan. Disney seolah-olah mau bilang bahwa setinggi apapun kualitas perempuan, kebahagiaan tertingginya ada pada romantisme. Jadi secerdas apapun perempuan, kalau nggak punya pasangan belum lengkap deh hidup lu. Satu lagi, kalau dibandingin sama Aurora yang cuma tidur aja dapet pangeran ganteng, kira-kira kenapa ya Jasmine yang kerennya bukan main harus bersanding sama Aladdin yang notabene pencuri jalanan? Sama kaya Princess Tiana yang cium kodok dulu baru dapet pangeran. Kira-kira ada hubungannya nggak ya sama warna kulit? Jangan-jangan Disney nih secara terselubung memperlihatkan diskriminasi yang dibalut romantisme. Menurut, kamu gimana?
Referensi
Maarif, Ahmad Syafii, et al. "Politik identitas dan masa depan pluralisme kita." (2010): 4.
Saraswati, Agni, Kathryn Widhiyanti, and Nindya Galuh Fatmawati. "Desain karakter film animasi Raya and The Last Dragon dalam membangun politik identitas Asia Tenggara." Satwika: Kajian Ilmu Budaya Dan Perubahan Sosial 5.2 (2021): 254-267.
Siagian, Joice Caroll. Budaya, makna, dan representasi 2015 . UMN Press. Tangerang
Aladdin | Origin Story & The Thousand and One Nights | Britannica
Cultural Imperialism Theory (Teori Imperialisme Budaya) | HIMIKOM UNIB
.jpg)
Comments
Post a Comment