Skip to main content

Review Jurnal The Positive Influence of Music on the Human Brain

The Positive Influence of Music on the Human Brain 

Zhang, Shiqi. “The Positive Influence of Music on the Human Brain.” Journal of Behavioral and Brain Science 10, no. 01 (2020): 95–104.


Introduction

Dalam bagian introduksi, penulis menyatakan bahwa karena musik diteruskan dalam bentuk gelombang maka interaksi antara gelombang dari musik dan otak menjadi fokus utama di berbagai penelitian. Penelitan sudah menujukkan bahwa musik bukan hanya mempengaruhi emosi seseorang. Musik memiliki efek positif pada perkembangan otak dan kognitif. 

Keadaan otak yang berbeda memahami musik melalui cara yang berbeda, menstimulasi area tertentu pada otak dan menyebabkan efek fisiologi yang sesuai. Alhasil, banyak peneliti yang melihat musik sebagai suatu alat terapeutik yang potensial dibanding hanya sebagai hiburan. Misalnya musik sebagai terapi untuk alzheimer, anxiety, dan seseorang dengan defisiensi konsentrasi. 

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa musik dapat menstimulasi area yang berhubungan dengan motorik, bahasa, dan fungsi kognitif dan secara efektif meningkatkan kognitif dan memori kerja. 

Sebagai hasilnya, penulis mencari tahu apakah pelatihan musik bisa secara efketif meningkatkan fungsi memori partisipan, kemudian meningkatkan kemampuan belajar mereka. Penulis juga mencari tahu apakan musik klasik dapat secara efektif meningkatkan konsentrasi partisipan dan efisiensi pembelajaran. Penulis melakukan dua set eksperimen untuk menguji hubungan antara musik dan fungsi memori. 

Music and Memory of Brain

Memory

Proses membuat memori mencakup enkoding, menyimpan, memelihara, dan mengingat informasi dan pengalaman masa lalu. Richard Semon, seorang biologis Jerman mengajukan teori terkait Mneme yakni plastisitas organik yang memungkinkan pemeliharaan pengalaman. Semon mengajukan gagasan engram yang mengacu pada perubahan dalam sistem sarat atau memory trace/ jejak memori yang mempertahankan efek pengalaman. Semon mengemukakan bahwa ingatan akan menimbulkan jejak fisik dalam otak, dan ketika otak terstimulasi maka memori itu akan diputar kembali. Teori ini dibuktikan oleh Susumu Tonegawa pada tahun 2012.

Engram: unit dari informasi kognitif yang tercetak pada substansi fisik, sarana penyimpanan ingatan sebagai perubahan biofisik atau biokimia di otak atau jaringan biologis lainnya sebagai respons terhadap rangsangan eksternal. 

Plastisitas: kemampuan makhluk untuk menyesuaikan dirinya dengan keadaan tempat tumbuh (lingkungan yang baru)

The Relationship Between Memory Differences and Music Training 

Meskipun sebagian besar penelitian yang meneliti hubungan antara pelatihan musik dan kemampuan kognitif memiliki desain korelasional, bias yang berlaku adalah bahwa music training menyebabkan peningkatan kognisi

Partisipan adalah 8 oranng siswa dari sekolah menengah international. Mereka dibagi dalam empat kelompok (Good, fair, limited, and weak) berdasakan performa akademik. Kemudian mereka diminta melakukan tes ingatan warna. Lama waktu respon dijadikan skala kemampuan kognitif. Mereka dites dua kali. Tes pertama sebelum pelatihan musik dan kemudian setelah pelatihan musik. 

Murid di kategori good menunjukan respon tercepat dibanding kategori lainnya. Makin buruk performa akedemiknya semakin lama juga waktu yang dibutuhkan untuk menjawab. Murid dengan performa akademik lebih baik membuat sedikit kesalahan dibanding dengan murid yang performa akedmiknya buruk. Sehingga ada korelasi positif antara pencapaian akademik dengan rata-rata waktu respon dan jumlah kesalahan. 

Setelah melakukan penelitian dengan musik training dan diambil datanya, hasil menunjukan tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa mendengarkan musik dapat meningkatkan kinerja dan mengurangi kesalahan baik dalam pertanyaan mana warna dan kata yang cocok maupun warna dan kata yang tidak cocok. 

Enhance Memory (Peningkatan Memori)

Tahun 1960, Lazanov menciptakan implicit learning method. Ia percaya bahwa musik klasik dapat membantu meredakan tensi emosional, meningkatkan konsentrasi, dan belajar lebih efisien. Beberapa scholar percaya bahwa stimuli musik dapat mempengaruhi efisiensi memori orang. 

Pada tingkat biologi molekuler, peneliti percaya bahwa stimulasi musik dapat mengubah sekresi dari neurotransmitter dan hormone peptida sehingga meningkat memori orang. Penelitian terbaru menemukan bahwa sekresi vasopressin AVP (4-8) meningkat ketika musik dirasakan. 

Vassopresin AVP: arginine vasopreesin, adalah hormon peptida yang dibentuk dalam hypothalamus kemudian disebarkan melalui akson ke posterior pituitar yang kemudian dilepaskan ke darah,. Fungsi utamanya adalah mengatur volume cairan dengan mengatur penanganan air dalam ginjal, meningkatkan reabsorpsi sehingga terjadi penurunan pembentukan urine. Fungsi sekundernya adalah untuk meningkatkan volume darah. 

Vasopressin mengaktifkan protein kinase MAPK, yang kemudian meningkatkan transkripsi c-fos. C-fos memiliki pengaruh pada diferensiasi synaptik dan pembelajaran juga memori. Wang Zengxian (2004) menemukan bahwa musik meningkatkan reseptor neuronal NMDA dan ekspresi mRNA dari NMDA receptor. NMDA adalah protein untuk induksi jangka panjang dalam jalur neural hippocampal. 

Music and Brain Plasticity

Plastisitas otak berarti otak dapat dimodifikasi oleh lingkungan dan pengalaman. Plastisitas otak dapat membentuk struktur dan fungsi otak di bawah pengaruh lingkungan eksternal dan pengalaman. Penelitian dengan hewan sudah menemukan bahwa musik dapat menaikkan perkembangan otak pada tikus dan mencit, meningkatkan plastisitas saraf, dan menaikkan kemampuan belajar spasial dan memori. 

Reseptor NMDA korteks auditori adalah jalur saraf konektif yang vital pada mamalia untuk belajar dan proses memori, termasuk pada manusia. 

Eksperimen tekrait juga menunjukan bahwa setelah pelatihan khusus, representasi kortikal yang berhubungan dengan otak dapat berubah secara signifikan. Ini menunjukan bahwa area representasi kortikal perasaan, gerakan, bahasa, kognisi, tidak tetap tetapi dinamis. Hal ini dapat menjelaskan mengapa seseorang atau hewan dapat mempelajari kecerdasan dan keterampilan motorik tertentu.  

The Influence of Music on Brain Plasticity

Beberapa riset menunjukan bahwa musik mempengaruhi korteks

Penelitian Christo Pantev di Master University menunjukan bahwa musisi sangat sensitif terhadap suara piano terutama karena aktivitas kortikal pendengaran mereka meningkat secara signifikan ketika mendengar suara piano. Orang-orang yang belajar musik instrumental sebelum usia 9 tahun memliki area auditory korteks terbesar dibanding orang biasanya. 

Penelitain Thomas Elbert dari Universitas Konstanz Jerman menunjukan bahwa wilayah kortikal dari aktivitas kidal pemain string lebih besar dari rata-rata orang, area korteksnya juga lebih luas.

Penelitian Schlaug 1995, menemukan bahwa traverse sisi kiri musisi lebih besar dari sisi kanan. Traverse adalah area dalam otak manusia yang memproses informasi auditori. Pada orang non musisi sisi kiri bisa juga lebih besar dari sisi kanan tapi perbedaannya kecil. Sedangkan pada musisi, perbedaannya bisa dua kalinya. Schlaug juga menemukan bahwa musisi punya cerebellum yang rata-rata lebih besar 5% ketimbang non musisi. Ini menunjukan pergerakan jari bertahun-tahun menaikkan pertumbuhan saraf tambahan. 

Clinical Study of Music Therapy

Terapi musik adalah metode perawatan yang meningkatkan keseharan fisik dan mental individu menggunakan aktivitas musik sebagai medium perawatan. Musik terapi mengombinasikan musik, obat, dan psikologi adalah sebuah studi tentang musik dalam fungsi manusia (human function) dan bagaimana mengaplikasikan musik untuk mengobati penyakit. 

Dari analisis psikologi, terapu musik adalah hasil dari stimulasi objektif untuk stimulasi sistem saraf pusat. Ketika faktor eksternal atau internal merangsang hipotalamus dan pusat subkortikal lainnya yang bertanggung jawab atas emosi, itu akan menybabkan perubahan dalam aktivitas sistem saraf emosional. Pengobatan modern mengkombinasikan penyembuhan secara fisik dan psikologi bagi pasien. 

Musik terapi dibagi menjadi dua yakni aktif dan pasif. Musik terapi pasif dikenal juga dengan musik terapi perseptual. Pasien akan mendengarkan dengan seksama, dan merasakan keindahan musik. Sedangkan musik terapi aktif adalah ketika pasien ikut berpartisipasi dalam aktivitas musik seperti menyanyi, atau memainkan instrumen musik. 

Dalam bidang kesehatan, hasil dari musik terapi di China telah ditegaskan oleh komunitas akademik. Gangguan neurologis yang paling banyak ditangani menggunakan musik terapi adalah stroke. 

Terapi musik adalah proses perawatan terencana dan terarah yang dipandu oleh psikologi medis dan menggunakan aktivitas musik sebagai material utama. Spesifikasi metode perawatan, prosedur, dan isinya masih dieksplorasi dan dipraktikkan. Musik memiliki dampak langsung pada limbik dan struktur batang otak melalui fungsi fisik dan fisiologis. Melodi dalam musik dapat menyegarkan semangat, merangsang pemikiran, merasangang perilaku normal, meningkatkan kemampuan respons darurat pasien stroke dan memungkinkan kemampuan hidup asli pasien. 

Conclusion

Pelatihan musik memiliki efek luar biasa pada perkembangan otak manusia serta perkembangan kognitif dan memori. Terapi musik dapat mengurangi tingkat kecemasan pasien sehingga meningkatkan suasana hati dan mengurangi respons terhadap depresi psikologis. Ini banyak digunakan di bidang medis modern untuk mengobat penyakit seperti strike. Selain itu pelataihan musik juga menunjukan efek signifikan pada peningkatan memori dalam tingkat molekuler yang jelas. 

Weakness (Reader POV)

Eksperimen tidak menunjukkan adanya korelasi antara pelatihan musik dengan kemampuan kognitif. Kemudian untuk jenis musik yang dipakai dalam eksperimen juga tidak dijelaskan. Terkait prosedur juga tidak dijelaskan sehingga tidak dapat diketahui apakah siswa memilih jenis musiknya masing-masing atau mereka mendengarkan musik yang sama. Kemudian tidak dijelaskan juga terkait waktu pelatihan, apakah diadakan dalam waktu yang bersamaan dengan durasi yang sama atau tidak. 


Comments

Popular posts from this blog

Aku dan Si Bocah Pemalu

       Menjadi lulusan musik membuat aku punya standar tersendiri ketika menikmati musik, baik mendengar karya instrumental maupun orang bernyanyi. Meski aku tidak menguasai semua alat musik dan vokal tapi setidaknya aku tahu mana nada yang dibunyikan atau dinyanyikan dengan sesuai mana yang tidak. Hal ini membuatku relatif peka dengan nada yang sumbang, yang pitchy meski kurang dari semitone. Berbekal pengetahuan tentang musik, beberapa waktu lalu aku melamar pekerjaan sebagai guru ekstrakurikuler musik di salah satu homeschooling di Yogyakarta, setelah diterima aku bertemu dengan seorang anak perempuan kelas IX.  Namanya Arimbi, tapi sering dipanggil Bimbi. Homeschooling tempat aku bekerja didominasi siswa berkebutuhan khusus, misalnya autis, down syndrome, disleksia, dan lainnya. Pertama kali bertemu Bimbi, dia terlihat tidak memiliki kebutuhan khusus. Dia mampu berkomunikasi dengan baik, perilakunya tidak impulsif, hanya saja dia sangat pemalu. Masih aku...

Selubung-selubung Film Aladdin

Buat para pencinta Disney, kalian pasti nggak akan asing dengan live action Aladdin yang rilis tahun 2019. Disney kayanya emang lagi gencar bikin live action dari film animasi lama. Live action Aladdin gampangnya adalah film fantasi musikal. Para penontonnya pasti tersihir sama musik dan tari-tarian di film itu. Nggak bisa dipungkiri sih, film garapan Disney rata-rata punya soundtrack yang bagus dan memorable banget. Salah satu lagu yang paling booming adalah A Whole New World. Jujur aja, kalau kalian denger film Aladdin pasti kalian kepikiran lagu satu ini kan? Tapi kali ini kita nggak bakal bahas lagu itu, guys. Ada hal lebih menarik yang mungkin nggak terlintas di benak kalian selama ini. 

Marketing In A Digital World

According to AMA (American Marketing Association), Marketing is the activity, set of institutions, and processes for creating, communicating, delivering, and exchanging offerings that have value for customers, clients, partners, and society at large. Marketing is also the enactment of a mutually beneficial exchange between two parties (seller and buyer).  Two factors make marketing quite challenging for both firms as well as consumers. First, customers often don't know what they want and maybe uncertain about the degree to which a particular product will meet their needs. Second, there are typically many firms offering competing products that appeal to the same customers.  To resolve those problems, the marketing developer made the 4 P's concept. The concept of the 4 P's was introduced way back in 1960 by professor Jerome Mc Carthy and Michigan State University. The 4P's are:  1. Product 2. Promotion 3. Placement 4. Price The 4P's known as the "marketin...