Skip to main content

Catatan Belajar: Komposisi


Judul buku : An Introduction to Music Studies

Judul Bab : Composition (Bab 14)

ISBN

Pengarang : Jim Samson

Penerbit         : Cambridge University Press

Tahun terbit : 2009

Pages : 236 – 249 (14 halaman)

Kategori buku : Non-Fiksi


Review Singkat

Bab ini membahas tentang nilai dari mempelajari komposisi dan melihat bagaimana komposisi diajarkan dan diuji. Bab ini juga akan membahas pemikiran awal komposer sebelum memulai karya mulai dari pengalaman pribadi hingga ketertarikan untuk berkolaborasi dengan karya seni lain. Bagian terakhir bab ini akan membahas relasi antara komposer, pemain, dan audiens. Hal yang menarik adalah saran pada akhir bab yakni komposer harus bisa bernegosiasi dalam membuat karya untuk memastikan karya musiknya bisa berkomunikasi dengan audiens tanpa membatasi kebebasan mencipta yang mereka miliki. 


Pokok Permasalahan

  • Komposisi mengingatkan kita bahwa karya musik adalah hasil dari proses yang kadang sangat berbeda. 
  • Komposisi menyertakan presentasi dan eksplorasi ide yang jelas apapun gaya musiknya. 
  • Notasi tidak hanya alat untuk merekam ide musik atau hanya sebagai instruksi bagi pemain tapi juga media mengerjakan kembali ide-ide musik. 
  • Materi musik dan bentuk musik saling membentuk satu sama lain. 
  • Komposer kontemporer harus memahami teknik komposisi musik saat ini dan masa lalu juga. 
  • Komposer harus dapat menyeimbangkan antara kebebasan imajinasi musik mereka dan audiens yang dituju. 

Mempelajari Komposisi

  • Salah satu manfaat mempelajari komposisi adalah Anda akan diingatkan bahwa karya musik tidak hadir begitu saja di pikiran komposer, namun juga perlu dikerjakan, direncanakan, dipikirkan kembali, dikoreksi, dan ditulis ulang seperti esai yang indah. 
  • Memberi pandangan baru tentang musik, apa itu musik, bagaimana musik bekerja termasuk proses bagaimana musik dibuat. 
  • Komposisi adalah sisi lain dari analisis musik. Baik analisis maupun komposisi sama-sama membahas bagaimana musik dibuat, dengan material apa, dan bagaimana hal tersebut bisa menjadi masuk akal. 
  • Sebuah karya musik harus bisa melibatkan pendengar sebagaimana sebuah essay melibatkan pembacanya. Keduanya harus masuk akal, baik komposisi maupun essay, dengan menghindari alur yang berubah-ubah dan tidak relevan. Keduanya harus ditulis dengan baik, dengan demikian mengajar komposisi memiliki banyak tujuan yang sama dengan mengajar bagaimana penulisan akademik yang baik. Mulai dari mengembangkan bagaimana siswa mempresentasikan ide sejelas mungkin hingga menggali potensi dan kemungkinan imajinatif dari ide-ide tersebut. 
  • Sebuah komposisi dapat memiliki arti yang berbeda di waktu dan tempat yang berbeda. 
  • Pada sejarah musik Eropa dan budaya musik dunia yang berbeda-beda, “membuat” sebuah karya seringkali berarti mengerjakan kembali interval musik yang sudah ada dan familiar. 
  • Mempelajari komposisi saat ini harus melibatkan refleksi dari asumsi kita tentang komposer, tentang ide individual merancang kemajuan sebuah pertunjukan, peran notasi, dan seluruh ide tentang pertunjukan konser dimana pemain sebagai perantara dan penonton. 

Cara Kerja

  • Komposisi akan menghasilkan karya-karya terbaik apabila dilihat sebagai sebuah skill untuk dikerjakan, bukan sebuah hal yang terjadi ketika seseorang merasa cukup terinspirasi untuk membuat sebuah karya musik yang “bagus”. 
  • Seperti proses lainnya dalam hal “membuat”, membuat musik ada pada proses yang lambar dan melelahkan dan tentunya membutuhkan kesabaran dan kerja keras. 
  • Akan lebih baik bila seseorag bisa memperlakukan komposisi layaknya berlatih musik, jadi bukan sesuatu yang dilakukan berdasarkan mood, namun sesuatu yang terjadwal dan dilakukan bahkan ketika Anda tidak termotivasi sekalipun. 


Pikiran Awal

Setiap komposer memiliki jalan yang berbeda untuk memulai sebuah karya. 

  • Beberapa komposer mulai dengan improvisasi

Pikiran yang musikal akan dengan spontan menemukan ide-ide baru lebih cepat dari yang bisa ditulis. Namun dalam improvisasi, seringkali kita mencoba ide yang sama berulang kali untuk melihat berbagai kemungkinan. Hal ini baik untuk menemukan motif tertentu, ritme atau bunyi tertentu. Tanpa disadari, percobaan-percobaan ini mungkin akan mengembangkan sesuatu yang baru di pikiran kita. 

  • Beberapa komposer memulai dari hal-hal ekstra-musikal. 

Saat ini banyak musik yang diilhami dari pengalaman pribadi. Ada berbagai pengalaman yang dapat dijadikan ide. Namun dalam komposisi, bukan seberapa banyak pengalaman atau ide awalnya tapi apa yang dilakukan ke pengalaman tersebut secara musikal. 

  • Komposer lainnya mulai dari masalah teknik. 

Sebuah karya musik mungkin berawal dari sebuah ritmis yang dikembangkan menjadi pola ritmis lainnya atau dengan perubahan akor atau interval atau penggunaan ansambel untuk memperkuat timbre instrumen solo. 

  • Komposer lain mulai dengan menggunakan material yang sudah ada sebelumnya. 

Karya Bach, Goldberg Variation atau karya Beethoven, Diabelli Variation adalah contoh bagaimana komposisi lebih ke apa yang Anda lakukan terhadap ide daripada ide itu sendiri. 

  • Beberapa komposer memulai karyanya dengan relasi terhadap bentuk seni lain. Misalnya karya Debussy Prelude a l’apres-midi d’un faune yang judulnya diambil dari puisi oleh Malliarme.


Dari Ide Menjadi Bunyi

  • Terkadang, kita kehilangan banyak ide musikyang cemerlang karena malas menulis notasi atau notasi tidak akurat. 
  • Setelah menulis notasi, hal yang perlu dilakukan adalah mereview apa yang sudah ditulis sampai Anda merasa senang dengan itu, hingga Anda merasa puas dan yakin bahwa itu adalah ide yang kuat meskipun Anda belum tahu kemana arah selanjutnya. 
  • Notasi bekerja dalam dua jalur. Notasi dapat merekam apa yang sudah komposer temukan, namun juga sebagai alat untuk mengerjakan material atau ide musik. 
  • Membuat sketsa juga penting dalam komposisi, namun sketsa ini adalah hal pribadi. 
  • Membuat sketsa dapat menghemat banyak waktu karena Anda dapat melihat kembali material yang Anda punya ketika Anda kehilangan acuan saat menulis musik. 
  • Sketsa dapat berupa gambar detail dari frase melodi, inversi, atau akor-akor kompleks. 
  • Dalam komposisi yang besar, seorang komposer harus siap untuk menguji kembali ide dan merevisinya. 
  • Membuat komposisi adalah sebuah kerja keras, membuatuhkan waktu, pengetahuan, dan melelahkan secara emosional. 
  • Apa yang perlu  ketika Anda sudah selesai membuat karya? Pertama, memastikan partitur dapat dibaca oleh pemain karena ini penting agar ide musik Anda dapat dikomunikasikan. Kedua, pikirkan proses latihan dan pertunjukan sebagai bagian dari komposisi. 

Komposer, Performer, dan Audiens

Perbedaan antara komposisi “bebas” atau “original” dengan komposisi gaya tertentu bukanlah hal yang mutlak, namun ini penting. Banyak komposer percaya bahwa teknik-teknik yang seseorang pelajari dalam komposisi gaya tertentu sangat berguna untuk komposer kontemporer juga. Komposer dari gaya apapun sama-sama menghadapi masalah seperti bagaimana mengkombinasi harmoni horizontal dan vertikal, menyeimbangkan pengulangan dan perubahan, bagaimana membedakan sonoritas suara dan instrumen. 

Apa yang kita sebut komposisi original? Gagasan “ komposisi original” sebetulnya adalah produk dari masa Romantik dimana kehalian komposer dianggap terhubung secara langsung pada kapasitas mereka dalam membaut sesuatu yang kelihatannya melebihi apa yang sudah ada sebelumnya, melebihi apa yang dibayangkan oleh komposer sebelumnya. 

Murid komposisi perlu menghindari keraguan akan karya sendiri dengan terlalu canggung karena memikirkan apakah pasase A terdengar seperti karya X, atau section B terdengar seperti Y. Berkarya saja. Selanjutnya, Anda mungkin menyadari bahwa Anda banyak “meminjam” material dari karya lain. Yang perlu Anda lakukan adalah tetap maju ke karya berikutnya dengan kesadaran yang lebih baik lagi. Poin yang sebenarnya adalah ketika Anda membuat karya musik, Anda mencoba untuk bicara dengan suara Anda sendiri daripada suara orang lain. 

Aspek “original” pada komposisi sebetulnya bermuara pada karya yang tumbuh dari kebutuhan-kebutuhan tertentu. Untuk sebagian komposer, ini adalah hal yang ekspresif dimana mereka memiliki sesuatu untuk dikatakan dan perlu untuk mengatakan itu. Untuk sebagian komposer lainnya, komposisi didasari penemuan dari berbagai kemungkinan dalam musik. Bagi sebagian yang lain, dua hal ini berjalan bergantian atau justru tumpang tindih. 


Apakah Semuanya Diperbolehkan? 

Pertanyaan tentang gaya selalu menjadi hal kontroversial. Gagasan bahwa murid komposisi harus menulis dalam gaya terbaru justru semakin ditinggalkan karena memang tidak mungkin. Salah satu hasil dari budaya postmodern yang jelas adalah ketidakpercayaan terhadap batas-batas antara budaya musik Barat dan non-Barat, antara budaya “seni tinggi” dan populer. 

Musik kontemporer kini, ditandai dengan adanya elemen dari jenis musik yang berbeda mulai dari musik abad pertengahan hingga pop, semua “tersedia” secara setara seperti material musik klasik Barat. Akan sangat preskriptif ketika seorang tutor komposisi memaksakan satu gaya yang “benar”, apalagi yang paling “up-to-date”. 

Ada yang berpendapat bahwa musik kontemporer harus menunjukan kesadaran akan musik masa lampau. Contohnya seperti Stranvinsky yang menggunakan kembali elemen-elemen dari banyak karya di era neoklasik, Britten mempertimbangkan kembali karya-karya komposer Inggris seperti Purcell. Pada pertengahan abad 21, banyak komposer menganggap menulis dengan tonalitas sudah ketinggalan zaman dan tidak lagi relevan dengan perkembangan tradisi seni dan musik pada zaman itu. Kini, komposer kontemporer tidak lagi beranggapan seperti itu. Penggunaan tonalitas dan triad juga menjadi bagian dair pemikiran komposer yang memiliki pendekatan ke atonal dan 12 nada. Ada kemungkinan baik tonal maupun atonal dipakai dalam karya yang sama. 

Pertanyaan tentang gaya dan bahasa musik tidak dapat didiskusikan secara bermakna tanpa adanya referensi tentang tempat, audiens, dan fungsi musik bagi audiensnya. Komposer harus merefleksikan hal ini karena musik terbilang berhasil dan dihargai berdasarkan bagaimana penyajian fungsinya, apakah musik tersebut berfungsi untuk liturgi religi, mengiringi tari, menghibur, dsb. Komposer harus memperhatikan konteks apda karyanya. Menulis musik film pasti berbeda dengan musik teater, dan berbeda juga dengan menulis musik untuk strings quartet. 

Saat ini, komposer kontemporer ditarik ke dua arah yang berbeda. Di satu sisi, ada tradisi musik yang panjang dan kaya yang menolak adanya batasan eksternal dari imajinasi komposer. Dari perspektif ini, komposer seharusnya bebas untuk mengikuti pikiran musikal mereka kemanapun sehingga mereka dapat mengeksplor lebih jauh tentang pengalaman manusia dan pemahamannya. Tradisi yang dimaksud mulai era Beethoven hingga Schoenberg hingga era avant-garde abad 20-an. 

Di sisi lain, komposer harus menimbang bahwa audiens hanya ingin komposer “bertemu” dengan mereka yakni musik yang baru harus komunikatif, kalau tidak, audiens tidak akan menemukan apapun dalam karya musik tersebut. Hal ini menyebabkan audiens meninggalkan musik baru untuk sesuatu yang lebih mudah. 


Comments

Popular posts from this blog

Aku dan Si Bocah Pemalu

       Menjadi lulusan musik membuat aku punya standar tersendiri ketika menikmati musik, baik mendengar karya instrumental maupun orang bernyanyi. Meski aku tidak menguasai semua alat musik dan vokal tapi setidaknya aku tahu mana nada yang dibunyikan atau dinyanyikan dengan sesuai mana yang tidak. Hal ini membuatku relatif peka dengan nada yang sumbang, yang pitchy meski kurang dari semitone. Berbekal pengetahuan tentang musik, beberapa waktu lalu aku melamar pekerjaan sebagai guru ekstrakurikuler musik di salah satu homeschooling di Yogyakarta, setelah diterima aku bertemu dengan seorang anak perempuan kelas IX.  Namanya Arimbi, tapi sering dipanggil Bimbi. Homeschooling tempat aku bekerja didominasi siswa berkebutuhan khusus, misalnya autis, down syndrome, disleksia, dan lainnya. Pertama kali bertemu Bimbi, dia terlihat tidak memiliki kebutuhan khusus. Dia mampu berkomunikasi dengan baik, perilakunya tidak impulsif, hanya saja dia sangat pemalu. Masih aku...

Selubung-selubung Film Aladdin

Buat para pencinta Disney, kalian pasti nggak akan asing dengan live action Aladdin yang rilis tahun 2019. Disney kayanya emang lagi gencar bikin live action dari film animasi lama. Live action Aladdin gampangnya adalah film fantasi musikal. Para penontonnya pasti tersihir sama musik dan tari-tarian di film itu. Nggak bisa dipungkiri sih, film garapan Disney rata-rata punya soundtrack yang bagus dan memorable banget. Salah satu lagu yang paling booming adalah A Whole New World. Jujur aja, kalau kalian denger film Aladdin pasti kalian kepikiran lagu satu ini kan? Tapi kali ini kita nggak bakal bahas lagu itu, guys. Ada hal lebih menarik yang mungkin nggak terlintas di benak kalian selama ini. 

Marketing In A Digital World

According to AMA (American Marketing Association), Marketing is the activity, set of institutions, and processes for creating, communicating, delivering, and exchanging offerings that have value for customers, clients, partners, and society at large. Marketing is also the enactment of a mutually beneficial exchange between two parties (seller and buyer).  Two factors make marketing quite challenging for both firms as well as consumers. First, customers often don't know what they want and maybe uncertain about the degree to which a particular product will meet their needs. Second, there are typically many firms offering competing products that appeal to the same customers.  To resolve those problems, the marketing developer made the 4 P's concept. The concept of the 4 P's was introduced way back in 1960 by professor Jerome Mc Carthy and Michigan State University. The 4P's are:  1. Product 2. Promotion 3. Placement 4. Price The 4P's known as the "marketin...