Hari ini saya kembali mengunjungi Perpustakaan Kota Bantul karena banyak waktu senggang sebelum mulai semester baru. Sesampainya di sana, saya meminta kunci loker lalu naik ke lantai dua. Perpustakaan cukup ramai di hari Jumat. Saya menaruh laptop dan barang lainnya di meja yang berhadapan langsung dengan pemandangan jalan raya. Setelahnya saya menyusuri rak-rak buku. Agak lama sampai saya menemukan buku berjudul On Literature, Aspek Kajian Sastra dari J. Hillis Miller yang sudah diterjemahkan. Penasaran dengan isinya saya pun membawanya ke meja.
Bab pertama menulis tentang Apa Itu Sastra. Bab tersebut diawali dengan pembahasan Apa yang Membuat Sastra Menjadi Mungkin? Dari pembahasan tersebut apa yang saya pahami adalah (semoga tidak keliru), sastra menjadi mungkin karena adanya kemampuan mengenal huruf dan kebebasan untuk berbicara. Kebebasan berbicara tidak selalu diwujudkan melalui orasi, pidato, namun apa yang "tokoh" bicarakan. Tokoh yang bahkan lahir dari khayalan penulis memiliki kekuatan untuk menyampaikan sesuatu. Menariknya, dalam pembahasan tersebut penulis menyatakan bahwa dalam mengatur apa yang dibicarakan oleh tokoh para penulis dapat melindungi diri dari pertanggungjawaban dengan membuat pernyataan bahwa apa yang ia tulis hanya fiktif belaka.
Pembahasan tentang Apa yang Membuat Sastra Menjadi Mungkin? memang cukup singkat, hanya dua halaman lebih sedikit. Namun tulisan singkat ini memunculkan pertanyaan, apakah sastra menjadi mungkin selama manusia masih berimajinasi?
Pembahasan selanjutnya membahas mengapa sastra berakhir. Kontradiktif dengan pembahasan sebelumnya. Dalam tulisan ini tentu dibahas mengenai bagaimana teknologi mengambil alih masa jaya karya sastra cetak. Tapi bagian yang menarik, penulis buku ini menyatakan:
“Salah satu gejala terkuat dalam hal akhir sastra yang tidak lama lagi adalah cara anggota fakultas yang lebih muda, di jurusan sastra di seluruh dunia, mengalihkan haluannya dari kajian sastra ke kajian teori, cultural studies, postkolonial, media (film, televisi, dan lain-lain), budaya populer, perempuan, Afrika-Amerika, dan lain sebagainya. Mereka seringkali menulis dan membaca dengan cara yang lebih dekat dengan sains sosial dibandingkan dengan ilmu sastra”
Saya jadi teringat masa persiapan tesis. Waktu itu membahas musik saja seolah terlalu sempit, harus dihubungkan dengan ini itu, harus dibaca dengan sudut pandang ini itu. Padahal dalam pembahasan selanjutnya, penulis menjelaskan bahwa dampak dari perubahan tersebut adalah kajian sastra tradisional cenderung dianggap sebagai hal kuno. Akibatnya, jurusan bahasa klasik di banyak universitas di Amerika akhirnya ditutup atau “digabung” dengan alasan “penghematan”. Apakah jurusan-jurusan musik akan mengalami hal yang sama?
Lanjut nanti, mau pulang dulu.

Comments
Post a Comment