Akhir-akhir ini algoritma media sosialku berubah. Postingan yang direkomendasikan adalah tentang melepaskan. Entah itu cinta, kesalahan di masa lalu, dan sebagainya. Tujuannya hanya satu, terbebas. Terbebas dari kemelekatan dengan hal-hal duniawi seperti keinginan untuk dipilih, keinginan untuk memiliki, rasa bersalah, penyesalan, dan sebagainya. Tapi, bagaimana bila segala sesuatu di dunia ini adalah candu? Bagaimana bila manusia sebenarnya tidak mungkin benar-benar terbebas kecuali ia mati?
Dalam cerpen terjemahan berjudul Penjudi, Perawat, dan Radio dari Hemingway (judul asli: The Gambler, The Nun, and The Radio) kata candu diulang berkali-kali. Meski cerpen tersebut menceritakan Cayetano yang tertembak, Pak Frazer yang menanggung sakit, dan Suster Cecilia yang ingin sekali menjadi santa, rumah sakit bukanlah tema utamanya. Cayetano adalah seorang penjudi yang selalu sial namun memilih untuk terus berjudi. Pak Frazer mengalihkan pikirannya dengan mendengarkan radio. Suster Cecilia berusaha menyingkirkan keinginannya menjadi santa, tapi tak pernah mampu.
Bagi saya, ketiga tokoh menemukan candu dalam hal yang berbeda; Cayetano dalam judi, Pak Frazer dalam mendengarkan radio, Suster Cecilia dalam pengabdiannya serta harapan menjadi seorang santa. Mereka menggunakannya untuk menanggung rasa sakit. Tanpanya, rasa sakit, ketakutan, dan kehampaan akan terasa lebih berat. Judi adalah candu bagi Cayetano dan itu sebabnya ia tetap hidup. Merawat orang lain ialah jalan yang Suster Cecilia pilih dengan harapan menjadi santa. Sementara Pak Frazer mendengarkan radio setiap malam untuk mengalihkan pikirannya.
Semua orang pada akhirnya memiliki candu masing-masing. Dalam cerpen ini, Hemingway secara eksplisit menuliskan beberapa hal seperti agama, ekonomi, dan ambisi. Candu itu yang membantu seseorang bertahan hidup walau tidak disadari. Norma dan masyarakat yang menilai mana candu yang dianggap baik dan mana yang tidak. Cita-cita adalah hal baik (menurut norma hari ini) sampai itu menjadi ambisi. Seseorang yang menjadikan ambisi sebagai candu bisa saja menempuh segala cara untuk mencapai tujuannya. Agama adalah hak manusia sampai ia menjadi alat untuk menghakimi dan menghukum orang lain tanpa batas.
Tulisan singkat Hemingway mengajak membaca untuk menilai kembali bagaimana manusia menggantungkan hidupnya pada apa yang ia percaya, ia yakini, ia kejar, dan menjadikannya sebagai candu. Oleh karena itu, apabila manusia hidup oleh dan untuk candunya apakah mungkin kebebasan hanyalah tentang memilih apa yang ingin kita genggam?

Comments
Post a Comment