Bosan… adalah kata pertama yang muncul di pikiran saya ketika membaca beberapa halaman cerpen Salju Kilimanjaro dari Hemingway. Setelah membaca novel Kejahatan dan Hukuman dari Dostoevsky, tulisan Hemingway ini terasa sangat membosankan. Alur ceritanya sangat lambat, seperti tidak terjadi apa-apa. Saya pernah membaca novel lain yang alur ceritanya juga bergerak lambat, Angsa dan Kelelawar dari Keigo Higashino. Tapi tulisan Hemingway ini agak lain.
Ini pertama kali saya membaca sebuah cerpen yang berkutat di pikiran tokoh utamanya, Harry, seorang penulis yang merasa bakatnya mati karena menikahi perempuan kaya raya. Ia pergi ke Afrika bersama istrinya, Helen. Di sana Harry mengalami infeksi yang membuat kakinya membusuk. Ia hanya bisa berbaring sambil menunggu pertolongan. Di tengah ketidakberdayaannya itu, pikiran Harry melayang-layang, mengingat peristiwa yang sudah ia lalui. Tentang cinta pertamanya, kebiasannya minum alkohol, perang, penyesalan, dan cerita-cerita yang tidak pernah ia tuliskan. Awalnya ia berpikir istrinyalah yang membuatnya berhenti menulis. Namun sebenarnya, hal itu hanyalah penyangkalan. Pada akhirnya Harry menyadari bahwa ia berhenti karena dirinya sendiri.
Bagi saya ada tiga hal menarik dari cerpen ini. Pertama, dari luar cerita ini tidak berkembang dramatis dengan plot twist tertentu. Bila dirangkum, cerpen ini hanya menceritakan Harry yang sakit, bergelut dengan pikirannya, lalu mati. Namun cerita bergerak di dalam pikiran Harry mencakup kenangan dan perenungannya di akhir hidup. Hemingway seolah memperlambat dunia luar agar pembaca memahami bahwa konflik terbesar manusia seringkali tidak terjadi di luar dirinya, melainkan dalam dirinya sendiri. Alur semacam ini mungkin menarik karena tulisan ini berbentuk cerpen. Jika bentuknya lebih panjang, novel misalnya, mungkin akan membosankan.
Kedua, bagaimana penulis menceritakan tentang kematian. Dalam satu bagian, Harry menyadari bahwa ia akan segera mati. Hemingway tidak menuliskan kematian dengan cara dramatis melainkan sebagai “perasaan lega di dada”. Kematian datang sebagai sesuatu yang justru menenangkan dan membebaskan.
Ketiga, apa yang bisa ditarik dari cerpen ini. Tentu setiap pembaca punya interpretasi masing-masing, tapi bagi saya tokoh Harry sama seperti kebanyakan orang (bahkan mungkin juga saya). Harry baru berani melihat diri sendiri dengan jujur ketika waktunya hampir habis.
Kita melewati banyak hal dalam hidup dan jarang memikirkannya kembali. Kadang kita perlu “dipaksa” berhenti untuk bisa sekali lagi menoleh ke belakang. Sayangnya tokoh Harry kurang beruntung, karena setelahnya ia tak punya kesempatan untuk memperbaiki apa yang perlu. Hal lainnya, selalu lebih mudah menyalahkan orang lain atas sebuah kegagalan atau kemunduran. Butuh waktu lebih lama untuk mau mengakui bahwa diri sendiri penyebabnya. Terakhir, apapun keputusan yang diambil, selalu diri sendiri yang menanggung konsekuensinya bahkan jika itu berupa penyesalan.
Hemingway mungkin tidak menawarkan alur cerita yang dramatis. Juga, tidak ada kejutan besar. Tapi bagi saya cerpen ini sangat unik karena seolah mengajak pembaca untuk masuk ke ruang yang sering dihindari; pikiran sendiri. Lagi, yang menarik cerpen ini mampu menceritakan apa saja yang seseorang pikirkan ketika menghadapi kematian, tentang apa yang sudah dilakukan dan apa yang belum.

Comments
Post a Comment