Sehari lalu saya mendapat e-mail dari Perpustakaan Bantul tentang batas peminjaman buku yang tinggal dua hari. Buku Kejahatan dan Hukuman, terjemahan dari Crime and Punishment dari Fyodor Dostoyevsky. Sebagai penggemar novel, buku ini tentu menarik untuk saya ditambah dengan nama besar Dostoyevsky. Ini pertama kali saya membaca novelnya, karena biasanya saya lebih suka novel Asia misalnya karya-karya Keigo Higashino.
Buku yang saya baca merupakan buku terjemahan dan sudah dirangkum tanpa mengubah struktur cerita, setidaknya begitu tulisan di kata pengantar. Novel ini bisa dibilang sebuah karya lama tapi nyatanya masih relevan dengan kehidupan hari ini.
Masalah kemiskinan menimbulkan keputusasaan lalu memunculkan pikiran-pikiran tidak waras tentang tindak kejahatan. Saat membaca novel ini, Raskolnikov, si tokoh utama mengalami pergolakan psikologis yang (bagi saya) sulit dipahami tapi masuk akal. Seorang terpelajar yang merasa gagal dengan hidupnya lalu mempercayai sebuah teori bahwa melakukan kejahatan demi kebaikan bersama itu diperbolehkan. Kepercayaan ini rasanya timbul dari luka batinnya. Bagi saya, ini seperti seseorang yang mencari pelampiasan atas rasa sakit yang tidak bisa ia hadapi. Bukankah sampai saat ini, banyak orang masih melakukannya? Sayangnya, Raskolnikov mengambil keputusan yang terlalu ekstrem yakni dengan membunuh dua orang sekaligus.
Konflik dalam novel ini bagi saya sangat menarik. Dostoyevsky dengan gamblang menunjukkan bagaimana kondisi eksternal seseorang bisa mempengaruhi internalnya. Kemiskinan, kegagalan akademik, ketidakmampuan menanggung ekspektasi keluarga, kekecewaan terhadap sistem dan masyarakat, menjadi alasan utama keputusan Raskolnikov untuk membunuh. Meski begitu bagi saya melakukan tindak kejahatan karena alasan-alasan tersebut tetap tidak diperbolehkan. Pada akhirnya, tindak kejahatan bukan hanya tentang bagaimana penderitaan mempengaruhi manusia namun juga pergulatan antara akal dan hati nurani.
Meskipun begitu, ada satu hal lain yang menarik. Di tengah kisah yang penuh penderitaan, Dostoyevsky menghadirkan satu unsur yang memberi harapan yakni cinta. Novel ini sebagian besar menceritakan bagaimana kondisi psikologis Raskolnikov dari sebelum dan sesudah membunuh hingga mengakui kejahatannya. Namun Dostoyevsky kemudian menyisipkan cerita cinta antara Raskolnikov dan Sonia. Bagi saya, ini bukan hanya pemanis tapi kepercayaan penulis bahwa cinta adalah kekuatan paling besar untuk mengubah seseorang. Raskolnikov yang tadinya menolak mengakui kejahatannya dengan sukarela pergi ke kantor polisi setelah Sonia memintanya. Rasanya si penulis ingin menyampaikan bahwa sepahit-pahitnya hidup, ada setetes rasa manis apabila kita menemukan cinta yang tulus. Cintalah yang membuat kita berani untuk membuat keputusan besar dan menghadapi perubahan.
Novel Kejahatan dan Hukuman tidak hanya menceritakan tentang kasus pembunuhan, namun perjalanan seseorang menghadapi rasa bersalah, penyangkalan, harga diri, norma, dan cinta.

Comments
Post a Comment