Skip to main content

Hampa dan Bahagia



Saya sudah sering membaca cerpen dan novel. Bagi saya, menarik atau tidaknya tulisan-tulisan tersebut bergantung pada alur ceritanya (kecuali cerpen anak). Alur dramatis dengan akhir yang tidak terduga selalu mencuri perhatian saya. Namun hal semacam itu hampir tidak selalu ada pada cerpen-cerpen Hemingway. 

Hari ini saya membaca salah satu cerpen Hemingway berjudul Ayah dan Anak (judul asli: Father and Sons). Cerpen ini menceritakan tentang Nick Adams yang mengenang kembali masa kecilnya bersama sang Ayah, bagaimana ia belajar berburu dan memancing, dan beberapa kenangan bersama teman-teman masa kecilnya. Cerpen ini tidak memiliki konflik eksternal apapun, alurnya bergerak dalam pikiran dan batin Nick. Namun di antara berbagai kenangan yang muncul dalam pikiran Nick, yang membekas bagi saya bukan peristiwa-peristiwa itu tapi satu kalimat yang berbunyi “Nick merasa hampa dan bahagia”. 

Hampa dan bahagia, dua hal yang saat ini terasa kontradiktif. Dalam cerpen aslinya, Hemingway menggunakan kata hollow and happy. Hollow bisa berarti rongga, bisa juga berarti kosong. Tapi penerjemah memilih kata hampa untuk menerjemahkan kata hollow.

Kata hampa seringkali dimaknai negatif, lebih dekat dengan kesepian, kesendirian, atau kesedihan. Selama ini kita didorong untuk menghindari rasa hampa. Kita seringkali diminta melakukan banyak hal untuk membuat diri menjadi utuh dan penuh sehingga kita bisa merasa bahagia. Namun dalam cerpen ini, menurut saya hampa bisa juga diartikan sebagai kondisi tanpa beban sehingga sangat mungkin berdampingan dengan bahagia. 

Tapi jika hollow dimaknai sebagai rongga, bagi saya maknanya jadi berubah. Rongga mungkin menggambarkan kondisi manusia yang tidak utuh, yang menyisakan ruang kosong. Semacam ada yang kurang lengkap. Bagi saya ini yang menarik. Manusia toh tidak perlu menghilangkan rongganya, tidak perlu menunggu utuh hanya untuk bahagia. Rongga akan selalu ada. Entah itu luka-luka masa lalu, harapan yang tak kunjung terwujud, kekecewaan akan sesuatu, atau kebutuhan yang tidak terpenuhi. 

Saya tidak yakin apa yang benar-benar ingin dikatakan Hemingway dalam cerpen ini. Tapi yang saya pahami adalah bahagia muncul bukan karena manusia menjadi utuh, melainkan belajar hidup bersama ruang kosong dalam diri. 



Comments

Popular posts from this blog

Aku dan Si Bocah Pemalu

       Menjadi lulusan musik membuat aku punya standar tersendiri ketika menikmati musik, baik mendengar karya instrumental maupun orang bernyanyi. Meski aku tidak menguasai semua alat musik dan vokal tapi setidaknya aku tahu mana nada yang dibunyikan atau dinyanyikan dengan sesuai mana yang tidak. Hal ini membuatku relatif peka dengan nada yang sumbang, yang pitchy meski kurang dari semitone. Berbekal pengetahuan tentang musik, beberapa waktu lalu aku melamar pekerjaan sebagai guru ekstrakurikuler musik di salah satu homeschooling di Yogyakarta, setelah diterima aku bertemu dengan seorang anak perempuan kelas IX.  Namanya Arimbi, tapi sering dipanggil Bimbi. Homeschooling tempat aku bekerja didominasi siswa berkebutuhan khusus, misalnya autis, down syndrome, disleksia, dan lainnya. Pertama kali bertemu Bimbi, dia terlihat tidak memiliki kebutuhan khusus. Dia mampu berkomunikasi dengan baik, perilakunya tidak impulsif, hanya saja dia sangat pemalu. Masih aku...

Tiba-tiba Sastra

Hari ini saya kembali mengunjungi Perpustakaan Kota Bantul karena banyak waktu senggang sebelum mulai semester baru. Sesampainya di sana, saya meminta kunci loker lalu naik ke lantai dua. Perpustakaan cukup ramai di hari Jumat. Saya menaruh laptop dan barang lainnya di meja yang berhadapan langsung dengan pemandangan jalan raya. Setelahnya saya menyusuri rak-rak buku. Agak lama sampai saya menemukan buku berjudul On Literature, Aspek Kajian Sastra dari J. Hillis Miller yang sudah diterjemahkan. Penasaran dengan isinya saya pun membawanya ke meja.  Bab pertama menulis tentang Apa Itu Sastra. Bab tersebut diawali dengan pembahasan Apa yang Membuat Sastra Menjadi Mungkin? Dari pembahasan tersebut apa yang saya pahami adalah (semoga tidak keliru), sastra menjadi mungkin karena adanya kemampuan mengenal huruf dan kebebasan untuk berbicara. Kebebasan berbicara tidak selalu diwujudkan melalui orasi, pidato, namun apa yang "tokoh" bicarakan. Tokoh yang bahkan lahir dari khayalan pen...

Review Jurnal The Positive Influence of Music on the Human Brain

The Positive Influence of Music on the Human Brain  Zhang, Shiqi. “The Positive Influence of Music on the Human Brain.” Journal of Behavioral and Brain Science 10, no. 01 (2020): 95–104.