Aktivitas belajar seringkali terdengar membosankan dan melelahkan. Hal ini bisa terjadi apabila seseorang belum dapat mengidentifikasi gaya belajar. Menurut buku Quantum Learning karya Bobbi DePorter, gaya belajar adalah kunci untuk mengembangkan kinerja dalam pekerjaan di sekolah, kantor, ataupun untuk komunikasi berbagai pihak.
Neil Fleming, seorang pengamat sistem pendidikan di New Zealand tahun 1980-an mengemukakan empat tipe gaya belajar yakni VARK, visual, auditory, reading/writing, dan kinesthetic. Setiap gaya memiliki keunikan tersendiri dan tentu saja tidak dapat disamakan.
Gaya belajar Visual
Anak yang memiliki gaya belajar visual akan lebih mudah memahami informasi dengan melihat grafik, bagan, diagram, gambar, dan warna. Penerimaan informasi dipengaruhi oleh desain, pola, bentuk, atau berbagai format yang digunakan untuk menekankan poin-poin penting seperti misalnya warna dan jenis tulisan.
Gaya belajar Auditory
Anak yang memiliki gaya belajar auditory, akan lebih mudah memahami informasi dengan cara mendengarkan. Biasanya anak dengan gaya belajar ini senang melakukan tanya jawab dan diskusi.
Gaya belajar Reading/Writing
Anak yang memiliki gaya belajar reading/writing, lebih mudah memahami informasi dengan cara membaca dan menulis. Anak dengan gaya belajar ini biasanya akan membuat list untuk menekankan poin-poin penting, membuat catatan materi, membaca materi tertulis, dan menggunakan kamus.
Gaya belajar Kinesthetic
Anak yang memiliki gaya belajar kinesthetic, lebih mudah memahami informasi dengan melakukan secara langsung, menggabungkan inderanya, dan menerapkan dalam kesehariannya. Biasanya, anak di tipe gaya belajar ini suka melihat contoh, kemudian menerapkannya langsung. Kadang, ia juga cenderung belajar sambil menggerak-gerakkan badannya, bahkan sambil berjalan-jalan.
(Pembahasan ini juga tersedia dalam versi video Youtube - Gaya Belajar VARK)

Comments
Post a Comment