Skip to main content

Gaya Belajar VARK, Kamu yang Mana?

 

sumber: pinterest


Aktivitas belajar seringkali terdengar membosankan dan melelahkan. Hal ini bisa terjadi apabila seseorang belum dapat mengidentifikasi gaya belajar. Menurut buku Quantum Learning karya Bobbi DePorter, gaya belajar adalah kunci untuk mengembangkan kinerja dalam pekerjaan di sekolah, kantor, ataupun untuk komunikasi berbagai pihak. 

Neil Fleming, seorang pengamat sistem pendidikan di New Zealand tahun 1980-an mengemukakan empat tipe gaya belajar yakni VARK, visual, auditory, reading/writing, dan kinesthetic. Setiap gaya memiliki keunikan tersendiri dan tentu saja tidak dapat disamakan. 

Gaya belajar Visual

Anak yang memiliki gaya belajar visual akan lebih mudah  memahami informasi dengan melihat grafik, bagan, diagram, gambar, dan warna. Penerimaan informasi dipengaruhi oleh desain, pola, bentuk, atau berbagai format yang digunakan untuk menekankan poin-poin penting seperti misalnya warna dan jenis tulisan.

Gaya belajar Auditory

Anak yang memiliki gaya belajar auditory, akan lebih mudah memahami informasi dengan cara mendengarkan. Biasanya anak dengan gaya belajar ini senang melakukan tanya jawab dan diskusi. 

Gaya belajar Reading/Writing

Anak yang memiliki gaya belajar reading/writing, lebih mudah memahami informasi dengan cara membaca dan menulis.  Anak dengan gaya belajar ini biasanya akan membuat list untuk menekankan poin-poin penting, membuat catatan materi, membaca materi tertulis, dan menggunakan kamus. 

Gaya belajar Kinesthetic

Anak yang memiliki gaya belajar kinesthetic, lebih mudah memahami informasi dengan  melakukan secara langsung, menggabungkan inderanya, dan menerapkan dalam kesehariannya. Biasanya, anak di tipe gaya belajar ini suka melihat contoh, kemudian menerapkannya langsung. Kadang, ia juga cenderung belajar sambil menggerak-gerakkan badannya, bahkan sambil berjalan-jalan.  


(Pembahasan ini juga tersedia dalam versi video Youtube - Gaya Belajar VARK)

Comments

Popular posts from this blog

Aku dan Si Bocah Pemalu

       Menjadi lulusan musik membuat aku punya standar tersendiri ketika menikmati musik, baik mendengar karya instrumental maupun orang bernyanyi. Meski aku tidak menguasai semua alat musik dan vokal tapi setidaknya aku tahu mana nada yang dibunyikan atau dinyanyikan dengan sesuai mana yang tidak. Hal ini membuatku relatif peka dengan nada yang sumbang, yang pitchy meski kurang dari semitone. Berbekal pengetahuan tentang musik, beberapa waktu lalu aku melamar pekerjaan sebagai guru ekstrakurikuler musik di salah satu homeschooling di Yogyakarta, setelah diterima aku bertemu dengan seorang anak perempuan kelas IX.  Namanya Arimbi, tapi sering dipanggil Bimbi. Homeschooling tempat aku bekerja didominasi siswa berkebutuhan khusus, misalnya autis, down syndrome, disleksia, dan lainnya. Pertama kali bertemu Bimbi, dia terlihat tidak memiliki kebutuhan khusus. Dia mampu berkomunikasi dengan baik, perilakunya tidak impulsif, hanya saja dia sangat pemalu. Masih aku...

Selubung-selubung Film Aladdin

Buat para pencinta Disney, kalian pasti nggak akan asing dengan live action Aladdin yang rilis tahun 2019. Disney kayanya emang lagi gencar bikin live action dari film animasi lama. Live action Aladdin gampangnya adalah film fantasi musikal. Para penontonnya pasti tersihir sama musik dan tari-tarian di film itu. Nggak bisa dipungkiri sih, film garapan Disney rata-rata punya soundtrack yang bagus dan memorable banget. Salah satu lagu yang paling booming adalah A Whole New World. Jujur aja, kalau kalian denger film Aladdin pasti kalian kepikiran lagu satu ini kan? Tapi kali ini kita nggak bakal bahas lagu itu, guys. Ada hal lebih menarik yang mungkin nggak terlintas di benak kalian selama ini. 

Marketing In A Digital World

According to AMA (American Marketing Association), Marketing is the activity, set of institutions, and processes for creating, communicating, delivering, and exchanging offerings that have value for customers, clients, partners, and society at large. Marketing is also the enactment of a mutually beneficial exchange between two parties (seller and buyer).  Two factors make marketing quite challenging for both firms as well as consumers. First, customers often don't know what they want and maybe uncertain about the degree to which a particular product will meet their needs. Second, there are typically many firms offering competing products that appeal to the same customers.  To resolve those problems, the marketing developer made the 4 P's concept. The concept of the 4 P's was introduced way back in 1960 by professor Jerome Mc Carthy and Michigan State University. The 4P's are:  1. Product 2. Promotion 3. Placement 4. Price The 4P's known as the "marketin...