Skip to main content

Harmony Review 1


Beberapa buku teks Amerika Utara mengidentifikasi harmoni individual dari tingkatannya pada tangga nada tertentu. Tujuh angka Romawi mengindikasi “root” dari kunci tertentu dan tambahan angka Arab mengindikasi variasi posisi (inversi) dari harmoni (dalam tradisi figur bass). 

Contohnya;

I   = tonika dalam posisi root

V6= dominan inversi pertama 

Beberapa teoris menyadari bahwa angka romawi tidak bisa mendefinisikan tujuh harmoni dengan lengkap, mereka justru mengemukakan klasifikasi harmoni menjadi tiga bagian yakni fungsi harmoni, tonik-dominan, dan pre-dominan. 

1. Tonik harmoni termasuk akor I dan IV dan berbagai variasi posisinya

2. Dominan harmoni termasuk akor V, dan VII dan berbagai variasi posisinya. Akor III dapat berfungsi sebagai subtitusi dominan dalam beberapa konteks. 

3. Pre dominan harmoni termasuk akor IV, II, bII, secondary dominan dari dominan (seperti V7/V) dan variasi akor “augmented-sixth” 

Beberapa buku teks membedakan kualitas akor dengan menggunakan bentuk angka romawi yang berbeda. Huruf besar untuk mayor, huruf kecil untuk minor, huruf kecil dengan tanda 0 untuk diminished. 


Progresi Harmonik

Sebagian progresi harmonik dapat diklasifikasi menjadi tiga tipe utama, yakni prolongational, cadential, dan sequential. Setiap progresi berbeda satu dengan yang lain. bagaimanapun, harmoni akhir dari sebuah progresi dapat dianggap sebagai harmoni awal dari progresi selanjutnya. 

1. Progresi Prolongational

Progresi ini memperpanjang sebuah harmoni dalam waktu tertentu lewat penggunaan elaborasi tambahan (subordinat harmoni) seperti neighboring, passing, dan substitusi harmonik. Dalam semua pola progresi prolongational, subordinat harmoni ditulis dengan tanda kurung untuk menyoroti prolong harmoni. 

2. Progresi Candential

Progresi Cadential memperkuat peran tonalitas dengan membawa fungsi fundamental harmoni yakni tonik awal, pre-dominan, dominan, dan tonik akhir. Pada dasarnya, konsep progresi ini dalam buku teks adalah penggunaan dominan yang harus muncul lebih dulu dalam posisi dasar (root position). Progresi ini dapat dibedakan menjadi tiga macam yakni;

a. Authentic cadential progression, berakhir dengan tonika pada posisi dasar 

b. Half cadential progression, berakhir dengan akor dominan posisi dasar

c. Deceptive cadential progression, berkahir dengan akor selain tonik, misal vi, vii6/V

Progresi ini dikatakan complete bila memenuhi semua komponen fungsi harmoni misalnya, I6 – ii – V7 – I, dikatakan incomplete bila kekuarangan tonik awal atau pre-dominan, misal I – V7 – I. 

3. Progresi Sequential

Progresi ini menggunakan pola gerakan not yang konsisten. Progresi ini dapat diklasifikasi menjadi enam tipe berdasarkan ukuran dan arah interval antara root dari akor. 

1. Descending fifth, seperti III – VI – II – V – I

2. Ascending fifth, seperti I – V – II – VI 

3. Descending third, I – VI – IV – II 

4. Ascending third, I – III – V

5. Descending second (step), IV – III – II – I

6. Ascending second (step), I – II – III – IV

Progresi sequential biasanya dimulai dengan harmoni yang memiliki fungsi jelas dibawah kunci tertentu, subsekuen harmoni biasanya kekurangan relasi fungsional dengan yang lain namun terhubung berdasarkan pola melodik-kontrapungtal dan gerakan root yang konsisten, dan harmoni akhir memperbaiki fungsi tepatnya baik dalam kunci awal maupun dalam kasus modulasi sekuen, kunci baru. 

Referensi: Analyzing Classical Form (Book)
Gambar : https://www.pexels.com/

Comments

Popular posts from this blog

Review Jurnal The Positive Influence of Music on the Human Brain

The Positive Influence of Music on the Human Brain  Zhang, Shiqi. “The Positive Influence of Music on the Human Brain.” Journal of Behavioral and Brain Science 10, no. 01 (2020): 95–104.

Aku dan Si Bocah Pemalu

       Menjadi lulusan musik membuat aku punya standar tersendiri ketika menikmati musik, baik mendengar karya instrumental maupun orang bernyanyi. Meski aku tidak menguasai semua alat musik dan vokal tapi setidaknya aku tahu mana nada yang dibunyikan atau dinyanyikan dengan sesuai mana yang tidak. Hal ini membuatku relatif peka dengan nada yang sumbang, yang pitchy meski kurang dari semitone. Berbekal pengetahuan tentang musik, beberapa waktu lalu aku melamar pekerjaan sebagai guru ekstrakurikuler musik di salah satu homeschooling di Yogyakarta, setelah diterima aku bertemu dengan seorang anak perempuan kelas IX.  Namanya Arimbi, tapi sering dipanggil Bimbi. Homeschooling tempat aku bekerja didominasi siswa berkebutuhan khusus, misalnya autis, down syndrome, disleksia, dan lainnya. Pertama kali bertemu Bimbi, dia terlihat tidak memiliki kebutuhan khusus. Dia mampu berkomunikasi dengan baik, perilakunya tidak impulsif, hanya saja dia sangat pemalu. Masih aku...

Ruang Aman

  Memang seharusnya aku tidak habis karena mencintai orang lain. Bukan berarti aku pernah begitu. Aku belajar mencintai secukupnya, karena dengan orang yang menyayangiku semuanya cukup. Aku tidak perlu membuktikan apapun. Seperti aku mencintai diriku, dia pun akan begitu. Aku tidak perlu menjadi yang lain. Aku adalah aku seutuhnya. Dia akan selalu menjadi ruang amanku. Ruang dimana aku bisa menjadi apa saja. Tapi kali ini ruang itu ada di kamu.