Skip to main content

Sound Healing & Sound Empowering




Sound healing adalah teknik penyembuhan atau relaksasi dengan memanfaatkan vibrasi, resonansi dan frekuensi. Hal ini pada awalnya digunakan pada ritual atau upacara adat dimana selalu menggunakan musik. Tujuan dari penggunaan frekuensi adalah memindahkan kesadaran dan gelombang otak kita ke tujuan yang dikehendaki, atau dari ketidakseimbangan menuju keseimbangan (inner peace). Sound healing dapat membantu menyembuhkan penyakit seperti gangguan tidur, kegelisahan, depresi, manajemen stress dan lain-lain.

Ada beberapa cara kerja sound healing yaitu:

  1. Menggunakan ritme dan frekuensi sehingga dapat melatih gelombang otak sehingga memungkinkan untuk mengubah keadaan brainwave beta ( otak dalam keadaan sadar normal), alpha (dalam keadaan santai), theta (dalam keadaan meditasi), dan delta (dalam keadaan deep sleep)
  2. Secara kompositoris musiknya lebih mengalir, tidak menuntut banyak perhatian dari pendengar, tujuan musiknya adalah mencapai nuansa meditatif, calming, nyaman, damai, dan mendukung affirmasi dari target.
  3. Bentuk musik memberi, bukan musik meminta  (pujian) sehingga dalam musiknya tidak menonjolkan skill tapi kembali ke tujuan musiknya yaitu mencapai nuansa meditatif.
Dalam sound healing kuno, para healer biasanya menggunakan Tibetan Bowl, lalu berkembang menjadi Crystal Bowl, hand drum, tank drum, crystal garputala, dan piramida crystal. Banyak juga yang menggunakan pola repetitif berupa mantra, japu, berbagai serat dan dzikir atau doa yang berulang-ulang dengan pola ritme yang menghantar pada tingkat trance.

Sound empowering sedikit berbeda dengan sound healing. Tujuan dari sound empowering adalah untuk meningkatkan power dalam diri. Selain perbedaan tujuan, sound empowering juga menggunakan dinamika yang lebih keras, tempo yang lebih cepat dan affirmasi yang lebih bersemangat. 

Ada beberapa cara kerja sound empowering diantaranya;   

  1. Binaural beat, yaitu bentuk perbedaan frekuensi yang didengar manusia. Misalnya telinga kanan mendengar frekuensi 440 Hz, telinga kiri mendengar frekuensi 442 Hz. Perbedaan ini dapat membantu mengubah gelombang otak.
  2. Soundscape, yaitu bunyi-bunyian yang mendekatkan pada alam.
  3. Solfeggio frequences, 396 Hz, menghapus pemikiran negatif, 417 Hz, memperbaiki situasi, mendorong perubahan, 528 Hz, transformasi, love frequency,   639 Hz, membangun hubungan  741 Hz, menimbuklan solusi,  852 Hz, kembali memahami jiwa
  4. Affirmasi, yaitu kalimat-kalimat yang diciptakan untuk masuk ke dalam alam bawah sadar target, audiens, atau diri sendiri.
  5. Subliminal message, yaitu pesan-pesan terselubung yang bisa disampaikan melalui gambar statis, meme, video atau audio. Tujuannya adalah untuk melakukan kampanye atau provokasi dan perintah untuk menyukai sesuatu atau membenci sesuatu melalui alam bawah sadar target.
  6. Repetition music or looping motive, motif-motif musik sederhana yang terus diulang sehingga menghasilkan rasa tenang dan damai.



Comments

Popular posts from this blog

Review Jurnal The Positive Influence of Music on the Human Brain

The Positive Influence of Music on the Human Brain  Zhang, Shiqi. “The Positive Influence of Music on the Human Brain.” Journal of Behavioral and Brain Science 10, no. 01 (2020): 95–104.

Aku dan Si Bocah Pemalu

       Menjadi lulusan musik membuat aku punya standar tersendiri ketika menikmati musik, baik mendengar karya instrumental maupun orang bernyanyi. Meski aku tidak menguasai semua alat musik dan vokal tapi setidaknya aku tahu mana nada yang dibunyikan atau dinyanyikan dengan sesuai mana yang tidak. Hal ini membuatku relatif peka dengan nada yang sumbang, yang pitchy meski kurang dari semitone. Berbekal pengetahuan tentang musik, beberapa waktu lalu aku melamar pekerjaan sebagai guru ekstrakurikuler musik di salah satu homeschooling di Yogyakarta, setelah diterima aku bertemu dengan seorang anak perempuan kelas IX.  Namanya Arimbi, tapi sering dipanggil Bimbi. Homeschooling tempat aku bekerja didominasi siswa berkebutuhan khusus, misalnya autis, down syndrome, disleksia, dan lainnya. Pertama kali bertemu Bimbi, dia terlihat tidak memiliki kebutuhan khusus. Dia mampu berkomunikasi dengan baik, perilakunya tidak impulsif, hanya saja dia sangat pemalu. Masih aku...

Ruang Aman

  Memang seharusnya aku tidak habis karena mencintai orang lain. Bukan berarti aku pernah begitu. Aku belajar mencintai secukupnya, karena dengan orang yang menyayangiku semuanya cukup. Aku tidak perlu membuktikan apapun. Seperti aku mencintai diriku, dia pun akan begitu. Aku tidak perlu menjadi yang lain. Aku adalah aku seutuhnya. Dia akan selalu menjadi ruang amanku. Ruang dimana aku bisa menjadi apa saja. Tapi kali ini ruang itu ada di kamu.